»
S
I
D
E
B
A
R
«
Negara dengan KUALITAS Pendidikan Terbaik
April 29th, 2010 by budiono

Tahukah Anda negara mana yang kualitas pendidikannya menduduki peringkat  pertama di dunia?

Finlandia. Negara dengan ibukota Helsinki (tempat  ditandatanganinya perjanjian damai antara RI dengan GAM) ini memang begitu luar  biasa. Peringkat 1 dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survei  internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for Economic  Cooperation and Development (OECD). Tes tersebut dikenal dengan nama PISA (Programme for International Student Assesment) mengukur kemampuan siswa di  bidang Sains, Membaca, dan juga Matematika.

Hebatnya, Finlandia bukan hanya unggul secara akademis tapi juga menunjukkan  unggul dalam pendidikan anak-anak lemah mental.

Ringkasnya, Finlandia berhasil membuat semua siswanya cerdas. Lantas apa  kuncinya sehingga Finlandia menjadi Top No 1 dunia?
Dalam masalah anggaran  pendidikan Finlandia memang sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara  di Eropa tapi masih kalah dengan beberapa negara lainnya. Finlandia tidaklah  menggenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar, memberi beban PR tambahan,  menerapkan disiplin tentara, atau memborbardir siswa dengan berbagai tes.  Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada usia yang agak lambat  dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun, dan jam sekolah  mereka justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam perminggu. Bandingkan dengan  Korea, ranking kedua setelah Finlandia, yang siswanya menghabiskan 50 jam  perminggu.

Apa gerangan kuncinya?

Ternyata kuncinya terletak pada kualitas guru. Di Finlandia hanya ada  guru-guru dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru  sendiri adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah  fantastis. Lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru mendaftar untuk  dapat masuk di sekolah-sekolah pendidikan, dan hanya 1 dari 7 pelamar yang bisa  diterima. Persaingannya lebih ketat daripada masuk ke fakultas hukum atau  kedokteran!

Jika negara-negara lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan  bagian yang sangat penting bagi kualitas pendidikan, Finlandia justru percaya  bahwa ujian dan testing itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa. Terlalu  banyak testing membuat kita cenderung mengajarkan kepada siswa untuk semata  lolos dari ujian, ungkap seorang guru di Finlandia.

Pada usia 18 th siswa mengambil ujian untuk mengetahui kualifikasi mereka di  perguruan tinggi dan dua pertiga lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi.

Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK!
Ini  membantu siswa belajar bertanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri, kata  Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia.

Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari  sendiri informasi yang mereka butuhkan. Suasana sekolah sangat santai dan  fleksibel. Adanya terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan,  dan mengakibatkan suasana belajar menjadi tidak menyenangkan.

Kelompok siswa yang lambat mendapat dukungan intensif. Hal ini juga yang  membuat Finlandia sukses.

Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah di Finlandia sangat kecil  perbedaan antara siswa yang berprestasi baik dan yang buruk dan merupakan yang terbaik menurut OECD. Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi  sebagai kesempatan untuk memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menangani  masalah belajar dan prilaku siswa membuat program individual bagi setiap siswa  dengan penekanan tujuan-tujuan yang harus dicapai, umpamanya: Pertama, masuk  kelas; kemudian datang tepat waktu; berikutnya, bawa buku, dlsb. Kalau mendapat  PR siswa bahkan tidak perlu untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka  berusaha.

Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut  mereka, jika kita mengatakan “Kamu salah” pada siswa, maka hal tersebut akan  membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka dalam  belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta  membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa  lainnya.

Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinya masing-masing. Ranking  hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yang dianggap  terbaik di kelasnya.

Indonesia bisa!!!


One Response  
Leave a Reply

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image

»  Substance: WordPress   »  Style: Ahren Ahimsa